[Cerpen] -Farel Lyn-
Farel Lyn
Dinginya gerimis malam sudah tidak
terasa lagi. kehangatan Farel pada adiknya, Lyn membuat suasana malam itu
begitu hangat. Nyanyiannya seolah berusaha menina bobok kan adiknya yang dari
tadi sudah memeluk lengan kirinya, didapati rasa hangat yang menyelimuti
lenganya. Perlahan ia menarik selimut lusuh yang hanya menutupi sebagian
tubuhnya, lalu memberikannya kepada adiknya, Dingin mulai menyentuhnya. Tapi
kehangatan seolah mengusirnya ketika
genggaman tangan Lyn yang semakin erat mendekapnya, ia pun tersenyum lalu
mengelus kepala adiknya.
“Selamat tidur, Lyn..”
Farel memposisikan tubuhnya dan ikut
mendekap adiknya. Malam itu menjadi semakin hangat, yang bahkan dinginnya
angina malampun tidak dapat mengganggu ketenangan mereka.
***
Hembusan
angin dan kilauan mentari mengusik mata Farel. Ia perlahan sadar dari tidurnya
dan merebahkan dirinya lalu berdiri dan mulai menyadari ada sesuatu yang hilang
di sekitarnya.
“Bugh!”
Terdengar
benturan benda jatuh yang membawanya keluar dari tempat tidurnya.
“Lyn!
Kau… ”
Didapatinya
Lyn tengah tersungkur dibawah pohon, posisi kepalanya terbalik, dan banyak daun
kering yang menempel pada baju putihnya. Mendengar suara kakaknya, Lyn reflex
berdiri, dan tersenyum kekeh sambil mengagaruk kepalanya.
“ehehehe..”
Serunya
datar.
“tadi
ada seekor burung di atas pohon itu, Lyn kira burung itu bisa Lyn tangkap,
sayangnya dia terbaang.. hehe”
Lanjutnya
“Lyn,
setidaknya kau membangunkanku jika kau lapar”
Keluh
Farel
“Maaf kak..”
Lyn merasa menyesal telah membuat kakaknya khawatir.
“Aku hanya khawatir kau terluka”
“Lyn kuat! Lihatlah, Lyn baik baik saja..”
Lyn berlari kecil di sekeliling tubuh Farel untuk membuktikan
bahwa dirinya tidak terluka.
“baiklah, sudah cukup Lyn..”
Lyn berhenti di hadapan Farel, lalu sang kakak mengelus
rambutnya pelan.
“kau lapar bukan? Ayo kita berburu makanan”
Lyn terpaku, entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa tersipu
terhadap kelakuan kakaknya.
“Lyn..”
Sadar Farel
“Ahh, iyaa..
ayooo!!”
Kemudian Lyn berlari mendahului Farel.
“Hey hey, tunggu.. hati-hati”
Lagi-lagi hal sekecil apapun selalu membuat Farel khawatir
terhadap Lyn.
Farelpun perlahan menyusul Lyn, Lyn yang mendapati Farel
berjalan lambat dibelakangnya ikut memperlambat langkahnya dan berhenti sejenak
untuk menunggu Farel. Didapatinya Farel yang sudah berada di sampingnya, Lyn
tersenyum lalu Farel mengandeng tanganya. Keduanyapun berjalan dengan senyuman yang
terpancar diantara keduanya.
***
Suasana hutan pada hari itu begitu tenang, tidak ada satupun
mangsa yang mereka temukan, bahkan dilihatnya dedaunanpun begitu tenang.
Sepertinya hari ini mereka akan kesulitan mencari makanan.
“Lyn, kau baik baik saja?”
Dilihatnya Lyn sudah memperlambat langkahnya, dan lebih
banyak terdiam daripada biasanya.
“Haruskah kita istirahat sejenak.”
Seru Farel sambil berjalan menuju pohon rindang yang sedari
tadi mengusik perhatiannya.
Farel menggendong Lyn yang masih terdiam, lalu membawanya
ketempat yang paling teduh.
“Lyn?”
Tanya Farel perlahan.
Farel menurunkan Lyn dari punggungnya, lalu dia menunduk
menyetarakan tinggi badannya dengan tubuh mungil Lyn.
“Kita istirahat sebentar ya”
Farel duduk, kemudian Lyn mengikutinya. Dan perlahan tubuh
Lyn tersender pada bahu kakaknya.
“Tidurlah..”
Farelpun ikut memejamkan matanya beberapa detik setelah ia
menyuruh adiknya tertidur.
Di
kala keheningan itu, terlihat dari jauh sesosok makhluk yang sudah lama
menunggu mereka berhenti, tak begitu tampak jelas fisik yang di tampilkan oleh
makhluk itu, karena dia berdiri ditempat yang begitu tertutup. Hanya sebagian
jubbah yang terlihat, karena tubuhnya terhalangi oleh beberapa semak semak yang
tumbuh dihadapanya. Sekedar memastikan disekitarnya aman, iapun melangkahkan
kakiknya perlahan lalu menghampiri Faren dan Lyn yang sudah terlelap. Begitu ia
sampai di hadapan Farel, matanya berbinar, bibirnya melengkung membentuk sebuah
senyuman, seolah pemburu yang telah mendapatkan mangsanya, ia terlihat begitu
puas dan senang. Diperhatikannya dengan seksama wajah Farel, senyumnya semakin
mengembang, tak puas dengan itu dia raba wajah sesosok lelaki dihadapanya itu.
Semakin lama ia melakukannya dan semakin senang dia berdiam diri dihadapanya.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Farelpun terbangun.
“Hey!
Kau siapa?”
Didapatinya
sesosok gadis yang tersenyum lebar dihadapanya.
“Hallo..”
Gadis
itu masih tersenyum. Lyn sadar ketika kakaknya sedang berbicara dengan
seseorang.
“Kakak.. dia siapa?”
Pertanyaan
Lyn adalah hal yang sama dengan apa yang Farel pikirkan.
“kau..
?”
Farel
terheran heran
“Aku
Merelyn, kau Farel dan ini Lyn”
Jawabnya
riang sambil mengelus rambut Lyn.
Di
perhatikannya sosok yang ada dihadapan Farel itu, aneh. Siapa dia? Kenapa dia
tahu nama mereka? Tubuhnya lebih tinggi darinya, jubahnya cukup manis untuk
seukuran gadis sepertinya, dan sepatunya runcing. Siapa?
Farel
dan Lyn masih membeku.
“Baiklah,
sepertinya kalian memang kelaparan. Ini, makanlah..”
Merelyn
mengeluarkan tiga buah roti dari saku jubahnya. Melihat hal tersebut Lyn tidak
bisa menahan rasa laparnya.
“Lyn..
Sepertinya kita harus pergi”
Dengan rasa was
was dan khawatir Farel lebih memilih untuk menghindar, tapi sepertinya Lyn
berkata lain.
“Kakak..”
Seru Lyn
memelas sampil memilhat roti yang sudah disodorkan gadis itu.
“Makanlah..”
Merelyn menyodorkan
dua buah roti kepada mereka.
“Tapi,
baiklah..”
Akhirnya Farel
memilih untuk menyerah dan dia tak ingin melihat adiknya kelaparan.
“Selamat
makan!”
Seru Lyn sambil
melahap roti itu dengan senang.
Melihat Lyn
yang sudah mulai puas, Farel ikut memakan potongan roti yang sudah
digenggamnya.
“Jadi, kau
siapa?”
Farel memecah
keheningan.
Merelyn
terdiam, ia memandang sendu Farel yang sedang lahap memakan roti.
“Farel..”
Seru gadis itu,
lalu mengusap rambut Farel pelan.
“Hey! Kau tidak
sopan!”
Farel menepis
tangan Merelyn dari kepalanya.
“Farel..”
Merelyn semakin
iba dengan perlakuan Farel, ia masih memandang lirih remaja di hadapannya itu.
“Farel..
Farel.. Farel..”
***
“Farel.. Farel.. Farel..”
Suara itu terus
menggema, dan semakin terasa nyata.
“Farel..”
Merelyn
mengelus rambut adiknya, lagi-lagi Farel tertidur dikamar adik sulunngnya, Lyn.
Satu tahun sudah berlalu semenjak kematian adiknya, namun perlakuan Farel tidak
berubah. Ia masih merasa adiknya selalu ada dan selalu bermain
dengannya.
Perlahan Farel
membuka matanya dan iapun terbangun.
“Lyn..”
Serunya pelan.
“Farel, Lyn sudah
tiada..”
Farel terdiam,
lalu menundukan kepalanya. Sepertinya dia ingat, bahwa dirinya sudah terlalu
lama tidur di tempat adiknya yang sudah tiada.
Satu tahun
sudah berlalu, kejadian yang sempat terlupakan itu masih membuat Farel trauma. Hutan
yang sempat menjadi tempat bermain mereka kini menjadi tempat terburuk bagi
Farel. Musim panas waktu itu, Lyn sempat lepas dari pengawasan orangtuanya
karena seekor burung yang menarik perhatiannya, Farel mengikuti Lyn namun tidak
ingin mengganggunya, ia hanya melihatnya diam diam dari kejauhan. Sampai pada
akhirnya Lyn tak sadar ketika kakinya tesandung pada akar pohon besar, tubuhnya
terpeleset lalu terlempar pada bagian sisi pohon hingga tubuhnya terbentur dan
tertusuk ranting pohon. Dikala itu, Farel benar benar trauma dan tak ingat apa
apa.
Farel masih
setengah ssadar, iapun dibantu berdiri oleh kakaknya.
“Hh~”
Farel menghela
nafas
“Kak, bisakah
kau meninggalkanku sebentar di sini?”
Pintanya
kemudian.
“Tapi
Farel..”
“Aku
baik-baik saja…”
Tegasnya.
Merelyn
terdiam, memandang sendu adikya.
“Baiklah..”
Jawabnya
pertanda mengalah, kemudian dia pergi keluar.
Suara pintu
sudah tidak terdengar pertanda kakaknya benar benar pergi meninggalkannya.
“Lyn.. ?”
Panggil Farel setengah
berbisik.
Angin
menghembus menembus jendela kamar, suasana kamar itu menjadi semakin hening.
“Kau datang,
Lyn..”
Sebersit
cahanya mengusik penglihatan Farel dari arah jendela.
“Lyn? Kau kah
itu? ”
Farel tersenyum,
lalu mendekati cahaya yang ada diluar jendela.
“Kau ingin
melihat burung itu?”
Lagi lagi
Farel berbicara sendiri.
Farel
memandang lekat pancaran sinar yang sudah ada di depan matanya.
Terbayang
olehnya sesosok Lyn yang sedang tersenyum.
Angin berhembus kembali, cahaya itu
ikut memudar.
“Tunggu!“
Teriaknya.
“Hey! Aku ikut!”
Farel menaiki awak ranjang dan
memanjat ke luar jendela.
Tubuhnya terhempas, ia menjatuhkan
diri dari lantai tiga. Beberapa batang pohon yang tumbuh dekat disamping
rumahnya menusuk beberapa bagian
tubuhnya, pakaianya tersobek, dan tubuhnya terlempar.
“Lyn..”
Ucapnya lirih, darah memenuhi
mulutnya. Sesosok cahaya itu masih menyelimutinya dan tersenyum padanya.
-END-
***
################################################################################
Ceritanya sangat buruk? ya yaa.. untuk mengisi kebosanan semataa maklum..
Bayangin yang jadi Farel ini aja ya!!!!!
Bayangin yang jadi Farel ini aja ya!!!!!
Bye!~ #Troye mode





Hwaaaaa greget bangeeet!!!! 😱😱😱😱 Sampe speechles. Keren!!! 👍👍 Aslian, gak peres. ✌
BalasHapusCuma itu typo terulang di kata yg sama. "Angina" maksudnya "angin" kan ya? Bukan penyakit angina. Heuheu..
Cerpennya keren, keren! Ditunggu karya selanjutnyaaa ^^
Btw itu pict nya yang pemeran di film seri Arthur bukan sih? Yg di wily wongka itu juga ya? Udah gede ya skrg.. :") #salfok-,-
BalasHapusWkwkwk makasih udah di baca ehehe.angina penyakit apaa pulaa xD iya angin kok angin kk~
BalasHapusHaha siip siip, sampai ketemu dengan Farel di edisi lain ;D
Mbuh, aku tau Freddie pas di Art getting by doang wkwk. Dan karna peran itu aku langsung suka sama dia. Dan aku paling suka banget sama postinganku yg ini, karena ada selipan gif nya Troye wakakakak
Kembali kasih! ^^ Angina, mirip2 serangan jantung gitu. Apa mau aku jelasin disini? 😂 (gk deeng)
HapusIya, iya.. Itu emg dia kok 😍
Ih, awalnya ku kira Marelyn itu ELF. Tinggi, cantik, ujung sepatu runcing, siapa tau kan ujung telinganya juga runcing. Kirain emg ceritanya dia ELF. Perkiraanku salah. Dan dari awal baca juga ternyata semua perkiraanku emg salah. Keren deh!!
Haha, jujur kan kata aku juga awalnya ini udah di konsep dengan sangaat sangaat baik banget. Bener bener maun fantasy. Ya ituu.. efek kepepet pengen ending dan posting jadinya kek gitu lah wakak.
BalasHapusEmang sebenermya Merely itu tadinya mau di buat perwujudan penyihir #oposeeh. Makannya bilang sepatu runcing. Sama ba al ada konflik romance juga di sana. Tapi apa boleh buat akhirnya jadi kek gitu wakak
Gpp, di sequel selanjutnya dijadiin kya gitu aja. ;) Kecuali klo tiba2 punya konsep baru lagi. Xixixi
BalasHapusHaha, sudah tidak mungkin sepertinya. Karena memang harus ada konsep baru wkwk
Hapus