[Cerpen] -My Little Candy-

My Little Candy


‘Di kala itu.. takdir mempertemukan kita..’

Sudah lebih dari satu tahun ini Raka masih tak menghilangkan kebiasaanya, memasuki perpustakaan hanya untuk duduk manis di kursi yg posisinya dekat dengan jendela, seperti biasa ia akan membawa buku secara asal dan membiarkan buku itu terbuka di atas meja begitu saja, sedangkan ia? ia hanya bisa menopang dagu dan memandang sebuah tempat dimana seorang gadis tengah duduk di tempat itu.

Raka tak pernah memalingkan matanya pada gadis itu. Dan tanpa sadar ia tersenyum ketika ia melihat gadis itu tak sengaja menjatuhkan bukunya.
"gadis ceroboh.."
Ucap Raka pelan dan masih asik tersenyum seakan gadis itu menghiburnya. Senyuman Raka sekilas terhapus oleh datangnya seorang pria yg menghampiri gadis itu, tak ada kekagetan yg terpancar di wajah Raka. hanya saja, Ini menjadi ekspresi yg selalu Raka miliki ketika Raka melihat pria itu. Ya, selama ini Raka memang menyukai seorang gadis yg sebenarnya sudah memiliki seorang kekasih, nama gadis itu Lara. Lara dan Damar memang sepasang kekasih yg terbilang cukup harmonis, selama Raka sering memperhatikan Lara, Raka tak pernah melihat Lara sedih atau hal yg membuat Lara marah, Damar selalu berhasil membuat Lara tersenyum, begitu pula Lara, sikap Lara tak pernah mengecewakan Damar, dan karna itupulalah hubungan mereka bisa bertahan sampai sejauh ini.

Raka mengalihkan pandanganya, kini kegiatan yg di lakukanya sudah tak bernilai untuknya, iapun bangkit lalu pergi dan membiarkan buku yg di simpannya terbuka begitu saja.

***
Sebuah senyuman terbentuk di wajah Lara ketika seseorang yg ia tunggu kini sudah menghampirinya.
"Maaf.. Apa kau menunggu lama?"
Tanya Damar yg sedikit bersalah karna membuat Lara menunggu.
Lara hanya menjawabnya dengan menggeleng, tak lupa senyuman masih tergambar di wajahnya.
Damarpun membalas senyuman itu, lalu menggandeng tangan Lara dan membawanya ke perpustakaan.

      Lara mengitari setiap rak buku di perpustakaan, dari ribuan buku yg berjejer rapi di setiap lemari, tak ada satupun buku yg menurutnya menarik.
"Kak Damar.."
Seru Lara yg mulai bosan.
"Iya.."
Balas Damar dari arah sebrang.
"Aku bosan.. Aku tungguin sambil duduk ya.."
Lara menunggu Damar menjawab sejenak.
"Iya.. Sepertinya aku masih belum menemukan buku yg aku cari.."
Damar kembali sibuk mencari buku.
"Oke.."
Larapun menuju sebuah kursi di mana ada sebuah buku tergeletak di atas meja.
"Waah.. Pemandangan dari sini bagus juga.."
Seru Lara ketika ia takjub melihat sesuatu yg bisa di lihatnya lewat jendela di sampingnya, iapun duduk dan memperhatikan seluruh tempat yg ia lihat sekarang.
Setelah ia sadar ada buku yg tergeletak, iapun mulai mengalihkan perhatiannya pada buku tersebut.
"Hamlet??"
Lara membaca judul yg tertulis pada jilid buku itu.
"William Shakespeare..?"
Lanjutnya lagi ketika ia melihat nama yg tertulis di bawah judul buku itu.
"Sepertinya aku pernah mendengar nama ini.. Tapi.. Siapa William Shakespeare? Hmm..  Entahlah.." #buku yg di incer author -,-
Sekiranya buku itu tak di anggapnya menarik, iapun mengabaikannya dan memilih untuk menikmati setiap sudut pemandangan yg dapat di lihatnya kini.
"Lara.."
Panggil Damar.
Larapun menoleh dan.. lagi lagi tersenyum.
"Bukunya udah dapet nih.. Yuk kita pulang.."
Ajak Damar, Lara mengangguk dan menggandeng tangan damar, lalu merekapun pergi.

***
Seperti biasa, Raka tak pernah merubah kebiasaanya, pada jam dan tempat yg sama, ia akan pergi ke perpustakaan hanya untuk melihat orang yang selama ini di sukainya itu.
Raka memasuki pintu perpustakaan, ia tak memilih buku kali ini, pasalnya buku yg ia tinggalkan kemarin masih ada di tempat yg sama, hanya saja kini posisinya berubah, yg tadinya terbuka kini jadi tertutup, tapi Raka tak pernah mempermasalahkan hal kecil tersebut.
Raka mulai duduk di kursi yg hanya ada satu kursi itu, ia mulai menyudutkan pandangannya pada satu titik, sebuah kursi taman dimana Lara sering duduk di kursi itu. Tapi.. Ini untuk pertamakalinya Raka tak menemukan sesosok yg sering di perhatikannya itu, apa mungkin hari ini ia tak tepat waktu?
"Permisi.."
Suara seorang gadis membuyarkan lamunan Raka.
"Iy.. a?"
Ucapanya berubah gugup ketika ia mengeahui gadis yg kini ada di hadapanya itu, Lara.
"Padahal.. aku ingin sekali duduk di sini.. Pemandangan dari sini bagus.. Apa kamu masih lama..?"
Tanya Lara.
"Eh.. Aaah.. Iy.. Iya.."
Jawab Raka gugup.
"Haha.. Kamu lucu deh.. Namaku Lara.. Kamu?"
Lara mengulurkan tangan kanannya, dan ini untuk pertamakalinya ia berkenalan dengan pria yg baru di kenalnya.
"Ra.. Raka.."
Balas Raka dengan nada yg masih gugup.
"Haha.. Ngga perlu segugup itu.. Nih aku punya permen.. Mau? Siapa tau gugupnya ilang.. Nih.. Hhe"
Ujar Lara yg sontak membuat Raka malu.
Rakapun menerima permen itu.
"Makasih.."
Lanjut Raka.
"Umm.. Itu ada kursi kosong.. Aku bawa ke sini  ya?"
Tunjuk lara pada sebuah kursi. Raka hanya bisa mengangguk.
Larapun menggeser kursi yg ada di belakang Raka dan memposisikan kursi itu agar mereka duduk saling berhadapan.
"Aku suka tempat ini.."
Lara memulai perbincangan.
"Aku juga suka tempat ini. Setiap hari aku sering duduk di tempat.."
Raka mulai menuntun topik pembicaraan.
"Oh ya? Wah.. Pantesan, Aku baru tau kalau pemandangan dari sini itu indah.."
Lara mulai tertarik dengan perbincangan Raka.
"Kalo kamu mau.. Kamu boleh kok tiap hari ke sini.. Kita bisa ngobrol seperti ini lagi.."
Raka memulai sedikit kemajuan.
"Sepertinya begitu.. Lagian kak Damar akhir-akhir ini lagi sibuk buat persiapan ujian.. Jadi aku bosan kalau nunggu sendiri.. Tapi, karna sekarang ada kamu.."
Lara terdiam sejenak.
"Kita bisa bertemu setiap hari di sini.."
Raka melanjutkan ucapan Lara.
"Ya, sepertinya begitu.."
Seru Lara. Merekapun tersenyum dan kembali melanjutkan perbincangan mereka.
"Lara.."
Suara seseorang sejenak membuat mereka hening.
"Raka.. Sepertinya kak Damar udah.. Aku duluan ya.. Sampai ketemu lagi.."
Lara bangkit dan pergi menghampiri Damar, sesekali Lara tersenyum menoleh pada Raka dan Raka hanya bisa membalasnya dengan senyuman pula.
‘Apa yang aku lakukan barusan?’
Fikir Raka,
Lalu ia merenung sejenak dan memperhatikan pemandangan yang sekiranya di kagumi oleh Lara itu.
“Ya, memang indah.. sama, seperti saat aku melihatmu..”
Ucapnya pelan, lalu terhanyut oleh suasana yg di sajikan alam itu.

***

Hari ini tak seperti biasanya Raka bangun kesiangan, setelah ia sadar kini jam menunjukan pukul 06.55 iapun bergegas membersihkan diri.
“Ahh.. sialll…!”
Gerutu Raka di sela heboh mempersiapkan diri, 10 menit berlalu iapun secepat kilat keluar rumah dan menaiki motornya.
Setibanya di depan gerbang, ia hanya bisa memandang pasrah bangunan tinggi dengan gerbang yg sudah terkunci rapat itu.
“Paak.. bukain dong..”
Pinta Raka pada seorang satpan yang kini sedang berdiri di balik gerbang.
            “Jam berapa sekarang…?”
Tanya satpam itu dengan nada tegas
            “baru jam 07.35 pak..”
Jawab Raka memelas.
            “gerbang ini di tutup jam 06.55!! kamu masih berani datang jam segini..!!”
            “tapi pak.. aku belum pernah kesiangan.. ini baru pertama kalinya pak.. beneran..! gerbangnya buka ya..”
            “gak bisa! Ini sudah peraturan sekolah.. tidak ada siswa yang malas bangun di sekolah ini…!!”
            “Tapi paaakk…”
Di sela ia meronta dan memohon, ada seseorang yang menarik tangan Raka.
Awalnya Raka ingin melawan, namun setelah ia tau orang itu..
            “Lara..!”
Seru Raka kaget.
            “Ssstt..”
Lara membawa Raka menjauh dari gerbang agar tak terlihat oleh satpam yang tadi.
            “Kamu juga kesiangan?”
Tanya Raka dengan nada berbisik.
            “makanya.. hari ini kita bolos aja yuu?”
            “eehh..?”
Tak bisa di percaya, ternyata Lara orangnya seperti ini.
            “Udah ahh.. mending kita pergi yuu.. aku tau tempat yang bagus di sekitar sini.. Ayoo..”
Lara menuntun tangan Raka mendekati motor Raka, Raka awalnya bingung dan ragu.. Namun, apa boleh buat, ini kesempatan yang tak boleh Raka sia-siakan, kapan lagi mereka berdua seperti ini, di tambah untuk pertamakalinya Raka melihat Lara tanpa Damar, sepertinya Raka bisa bebas bersama Lara hari ini.
Mereka berduapun menaiki motor Raka untuk memulai perjalanan.
            “Eh.. apa pacarmu tak akan marah?”
Tanya Raka di tengan perjalanan.
            “Maksud kamu Kak Damar? Kamu tau kita pacaran? Hh~ Lagi-lagi semua orang menganggapnya begitu”
            “eeh? Maksudnya?”
            “udah ah.. kamu focus aja ama jalan.. ntar aku certain deh..”
Rakapun memilih diam dan menuruti apa yang Lara katakan.

***

Mereka berhenti tepat di tepi hutan.. Hutan? sepertinya tempat ini bukan hutan.. hanya saja terlihat seperti hutan.
            “Ini..?”
Tanya Raka ragu
            “Udah.. ayo ikut aja..”
Lara menyeret Raka masuk ke dalam, setelah beberapa langkah mereka berjalan, kini penglihatan mereka di suguhkan oleh sebuah Pohon besar yg berdiri sangat kokoh nan rindang. Pada salah satu ranting pohon itu tergantung pula dua buah ayunan tua yang terlihat masih kuat.
Raka tak mempercayai ini, di dalam sebuah hutan (setidaknya mirip hutan) ia bisa melihat tempat indah seperti ini. Dan pohon itu tak sendirian, banyak sekali tanaman kecil tumbuh di sini, meksi pohon itu berdiri di tengah rumput kecil sehingga membuatnya terlihat begitu mencolok, tanaman yg tumbuh di sekitar pohon itupun tak kalah indahnya dan turut menemani kehindahan di sekitarnya.
            “Aku suka tempat ini..”
Seru Lara sambil berjalan menghampiri sebuah ayunan.
            “di sini bukan hanya sejuk.. tapi aku bisa bermain dengan bunga dandelion yang tumbuh di sekitar sini.. daun semanggi juga tak membuatku bosan untuk melihatnya..”
Lara mulai berbicara panjang lebar, sementara itu Raka hanya bisa mendengarkannnya dan ikut terhanyut oleh setiap perkataan Lara, derap langkahnya tak henti mengikuti setiap langkah Lara, sampai ia ikut duduk di sebuah ayunan yg berada di samping Lara.
            “Hmm.. tempat ini memang nyaman, tapi.. rumah itu?”
Raka menunjuk sebuah gubuk yang terlihat sedikit tua, gubuk itu posisinya terlihat cukup jauh dari arah mereka berada.
            “ahh.. Rumah itu sudah lama tak berpenghuni.. entahlah.. aku tak pernah tau siapa yang tinggal di sana.”
Raka hanya bisa mengangguk pertanda mengerti.
            “Lalu.. bagaimana kamu bisa tau tempat seperti ini..?”
            “ceritanya cukup konyol dan sedikit memalukan.. tapi, baiklah akan aku ceritakan..”
Raka mulai antusias, ia tak pernah menyangka Lara bisa sampai sejauh ini padanya, padahal mereka baru berkenalan.
            “Jadi..”
Lara mulai bercerita
            “Tempat tinggalku berada di sekitar sini.. Dan dulu waktu aku masih kecil….”

Memory Lara kembali mengulangg menuju masa di mana ia pertama kali ke tempat ini.
Malam itu, Lara menangis mendengar kedua orang tuanya terus-terusan bertengkar, ia tak tahan jika harus terus-terusan menahan batinnya di kamar sendirian, ia memang tak mengerti apapun waktu itu, tapi ia bisa mengerti dengan jelas bahwa mereka sedang mempermasalahkan sesuatu, seperti halnya ia dengan temannya, jika sudah saling marah mereka akan saling enggan untuk rukun, begitu juga kini dengan orang tua Lara. Lara sudah tak tahan dengan suara keras yang membisingkan telinganya itu, akhirnya ia memutuskan untuk kabur dari rumah dan menangis sesukanya di suatu tempat.       Malam itu Lara tak tau harus kemana ia pergi, ketika ia merasa kakinya sudah lelah Lara melihat sebuah pohon dan dua buah ayunan mengantung di sana, akhirnya ia memutuskan untuk duduk di ayunan itu dan menangis sepuasnya. Dan semenjak itulah Lara menemukan sebuah tempat yang baik untuknya, setidaknya ia tak mendengar orang tuanya bertengkar lagi di tempat itu.
           
            “Jadi begitu..”
Ujar Lara ketika ia selesai bercerita.
            “ohh.. tapi malam-malam gitu.. kamu ngga takut.. padahal tempat ini luarnya serem tau..”
            “aku udah biasa tinggal di sini.. jadi.. Apa yg perlu aku takuti, lagian aku tak percaya ama hantu atau semacamnya..”
            “Ah.. gitu ya..”
Raka manggut-manggut
“oh iya.. tadi katanya kamu mau cerita soal.. Damar?”
Raka mulai bertanya pada topik yg paling penting.
            “Aku fikir kamu udah lupa karna barusan aku udah cerita panjang lebar.. ternyata kamu orangnya penasaran banget ya..”
            "Yaaa.. gitu deh.. mau di certain ngga nih?”
            “Oke deh.. jadi.. waktu aku nangis itu..”
            “Nangis yang malam itu, yang di sini, waktu kamu kecil?”
Potong Raka
            “Iya.. dengerin dulu ah..”
Rakapun diam
            “Waktu itu, ada seorang anak sebaya aku yg dateng ke sini, dia ngasih aku permen waktu aku lagi nangis di sini, anak itu habis-habisan ngehibur aku supaya aku berhenti nangis, alhasil dia benar-benar kerja keras dan membuatku tersenyum, di saat itu aku benar-benar lupa soal orang tuaku, dia benar-benar menghiburku..”
            “Itu Damar..?”
Lagi-lagi Raka memotong pembicaraan.
            “Mungkin iya, mungkin bukan.. tapi semenjak hari itu, saat aku ingin menemuinya lagi di sini, aku sudah tak pernah melihatnya lagi.. dan aku tak pernah ingat siapa namanya.. satu hal yang masih ku ingat.. dia pernah tinggal di rumah itu..”
Tunjuk Lara pada gubuk yg tadi di tanyakan Raka.
            “Jangan jangan..”
Raka mulai memancing aura horor.
            “Bukan..! Bukan hantu..!!! aku ngga percaya yang begituan..”
            “iya iya.... lanjutin ceritanya..”
            “Dan semenjak itu, aku terus menunggu dan menunggu.. Tapi tetap saja aku tak pernah melihatnya lagi di sini.. Waktu itu aku berjanji, jika kelak aku bertemu denganya nanti, aku ingin mencintai orang itu sepenuhnya.. Karna bagaimanapun juga, aku tak pernah merasa sebahagia itu ketika bersamanya, meskipun ini terbilang cukup konyol, tapi apapun itu.. Aku ingin terus bersamanya.. Sungguh.
Dan tahun demi tahun berlalu, ketika aku menginjakan kaki di jenjang SMP, aku sempat menangis karna waktu MOPD aku terus terusan di caci maki oleh senior, dan di saat aku nangis, ada seorang pria yg memberiku permen dan menghiburku.. Yg aku fikirkan pda waktu itu, takdir benar-benar berpihak padaku, sepertinya aku bertemu dengan seseorang yg selama ini aku nanti.. Dan semenjak itu aku sering mengikutinya dan terus berada di sekitarnya dan memintanya untuk menjadi bagian dari hidupku.. Namun ia tak bisa memenuhi harapanku.. Dan kami hanya menjalin hubungan sebatas teman, namun kedekatan kami yg semakin lama terlihat begitu menonjol hal itulah yg membuat banyak orang beranggapan salah..”
            “Jadi itu Damar, dan selama ini kalian ngga pacaraan?”
Tanya Raka setengah kaget.
            “Ya.. begitulah..”
            “Jadi selama ini yg orang lain katakan itu..?”
            “kak Damar memilih untuk diam dan membiarkan semua gossip menghambur sesukanya, ia tak pernah ambil pusing, toh kita memang dekat.. dan kak Damar tak pernah tertarik soal cinta.. ia lebih memilih kesuksesan, baru ia bisa pacaran..”
Hati Raka serasa ingin berteriak saat ini juga, dan sekarang tak ada kata lain selain kata bahagia di benaknyaa, pintu benar-benar terbuka lebar untuknya.
            “Lara.. sebenarnya..”
Hp Lara berbunyi ketika Raka angkat suara.
Di lihatnya layar ponsel tersebut, dan terdapat satu pesan dari Damar.
            “Raka.. ternyata kita keasikan di sini.. ini saatnya jam pulang.. kamu mau ke sekolah lagi? Aku mau ke perpus, sepertinya kak Damar nunggu aku di sana.. yu..”
Tanpa fikir panjang dan melupakan apa yang akan Raka katakana, Rakapun menuruti Lara.

***
           
“Kak Damar..”
Lara menghambur ke arah Damar yang sedang memilah-milah buku, sedangkan Raka hanya berjalan mengikuti arah Lara.
“Kamu hari ini bolos? Tadi aku nyari ke kelas katanya kamu ngga sekolah”
“Hehehe.. maaf, aku kesiangan.. yaudah.. bolos aja sekalian.. hehe..”
“lain kali jangan seperti itu lagi..”
“hehe.. maaf..”
Lara hanya bisa menjawab semuanya dengan cengengesan.
            “Siapa?”
Tunjuk Damar pada Raka.
            “Oh.. kenalin.. ini Raka.. temen Lara..”
Raka mengangkat tangan kananya.
            “Raka..”
Damar menyambut uluran tangan Raka.
            “Damar..”
Mata mereka saling bertemu, namun itu tak bertahan lama.
            “oh iya.. Lara, hari ini aku harus ngerjain banyak tugas.. yu sekarang kita pulang..”
            “Iya kak. Raka, aku duluan ya.. sampai ketemu nanti..”

Sementara Lara dan Damar pergi, Raka hanya bisa memandang mereka berdua dari belakang.
'Inilah resiko yg selalu aku takuti sejak dulu.. Meski dekat.. Namun.. Tetap terasa jauh..'

***
"Lara.."
Damar memecah keheningan di tengah perjalanan.
"Iya.."
Lara tanpa menoleh tetap fokus berjalan, namun ia tetap mendengarkan.
"Sebelum terlambat, aku ingin kau mau mengabulkan harapanku.."
Lara masih terdiam, ia menunggu Damar melanjutkan perkataanya.
"Berjanjilah untuk terus di sampingku."
Lara menghentikan langkahnya
Damar ikut berhenti, lalu mereka saling berhadapan.
"Jangan terlalu dekat.. dengan pria lain.. Selain aku”
Dipeluknya seseorang di hadapannya itu. Tak pernah terpikirkan olehnya, ia akan bertindak sejauh ini pada Lara.
Lara terbelalak kaget, tak pernah bisa menyangka, Damar akan seperti itu padanya,
"Aku ingin, kita terus seperti ini.. Selalu bersama seperti ini.. Setiap hari.. Selamanya.."
Lanjut Damar yg masih memeluk Lara.
Tak lama, pelukan itupun mereka lepas.
"Aku berhasil mendapat beasiswa sekolah di Jerman.. Ikutlah bersamaku.. Kita akan tinggal di sana bersama.."
Damar memandang lekat wajah Lara.
Lara tak mempercayai setiap perkataan yg keluar dari mulut damar kali ini, matanya mulai berkaca-kaca.
"Eum..!! Tentu saja, Aku mau..!! Aku mau..!!"
Teriak Lara antusias dengan anggukan semangat, lalu kembali memeluk seseorang yg kini sangat berarti itu, tak lupa air mata kebahagiaan perlahan membasahi pelopak mata Lara.
Damar tersenyum bahagia, lalu ia membalas pelukan hangat Lara, dan mengelus lembut rambut Lara.
"Aku mencintaimu.. Lara.."

***

Hari ini seperti biasa  pada waktu dan tempat yang sama. samar-samar Raka tersenyum menunggu Lara di kursi perpustakaan tempat biasa mereka ngobrol. Sampai saat ini ia sulit mempercayai kejadian beberapa hari lalu, selama ini ia memendam rasa sukanya pada seorang gadis yg tak pernah bisa ia gapai. Namun sekarang.. Sekarang bahkan hari-hari sebelumnya mereka kini sudah menjadi dekat, setidaknya tahap awal menuju puncak yg Raka inginkan.
"Raka..!"
Teriak Lara dari kejauhan, lalu ia berlari dan menghambur di kursi yg kini ada di hadapan Raka. Raka tersenyum lebar menyambutnya.
"Raka..!! Kamu tau gak??? Aku lagi seneeeeng..!!"
Seru Lara.
Raka sedikit heran.
"Kenapa?" *inget iklan biskuat,.. -,-
"Kak Damar.. Kak damar kemarin nembak aku..! Huaaa.."
Lara lagi-lagi tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya.
Sedangkan Raka, kini hanya bisa bungkam.
"Ka? Kamu kenapa?"
Raka menggeleng kikuk.
"Ehh.. Aaah,, begitu ya.. Sukurlah, Akhirnya rasa sukamu terbalas olehnya.."
Raka berusaha tersenyum.
"Eum..! Bahkan Damar ngajak aku tinggal di Jerman bareeng.. Huaaaa..!! Penantianku terbalas Raka.. Aku bahagiaa..!"
"Selamat ya.. Aku senang jika kamu benar-benar bahagia.. Setidaknya akupun bahagia.."
Raka masih berusaha terlihat senang.
"Ya tenu saja..! Makasih Raka.. Dan Aku masih tak menyangka.. Jika memang si anak permen itu Damar.. Berarti aku tak mengingkari janjiku dan takdir benar-benar berpihak padaku.. Namun, Jika anak itu bukan kak Damar.. aku merasa sangat bersalah padanya.. Jika takdir memberiku kesempatan untuk bertemu denganya, aku sangat ingin sekali mengatakan padanya.. Bahwa Aku pernah mencintainya dan selalu menunggunya.. Tapi.. Sekarang semuanya sudah terlambat.. Tak ada harapan lagi untuknya.. Aku sangat menyesal jika aku tak pernah di pertemukan denganya.."
Raka kini hanya terdiam.
"Hey.. Raka, kamu kenapa..?"
"Eh? Ah.. Anu.. Aku ada urusan sebentar.. Aku pergi dulu ya.."
Raka kemudian membereskan buku dan tasnya yg berserakan di atas meja.
"Eh.. Raka..! Aku ikut..!"
Lara bangkit sejenak.
"Jangan..! Tunggu Damar di sana.. Dia pasti sebentar lagi datang.."
Larapun mengurungkan niatnya dan kembali duduk.
Sementara Raka pergi, Lara hanya bisa memandang heran kepergian Raka.

***
Di luar hujan.. Dan Raka tak peduli dengan ribuan air yg jatuh menimpa dirinya, kepalanya masih menunduk, fikiranya masih kalut dengan kejadian yg entah mengapa datang secara tiba-tiba ini.
'Berakhir sudah hidupku..'
Fikirnya.
Apa yg harus ia lakukan sekarang? Harapanya pergi.. Cintanya hilang..
Tak seharusnya ia dekat dengan gadis itu.. Kedekatannya selama ini sama saja dengan ia mendekati keterpurukanya, jika selama ini hal ini yg ia tau.. Mengapa? Mengapa ia masih ingin bersamanya?

Raka menaiki motornya, dan mulai melaju entah kemana ia akan pergi, di tengah perjalanan ia sesekali berteriak mengeluarkan semua amarahnya, air hujan kini tak menjadi penghalangnya, hujan kini telah membantunya menyamarkan airmatanya.

Satu jam ia lewati di perjalanan, akhirnya iapun berhenti di suatu tempat, Ya.. Satu-satunya tempat dimana ia bisa menyendiri dengan tenang. Sebuah pohon besar yg memiliki dua buah ayunan. Ia pergi ke tempat itu, dan duduk termenung di salah satu ayunan dengan kepala yg masih tertunduk.. Dan, tetap menangis.

Sementara itu di saat  Lara menunggu Damar, ia menemukan banyak lembaran kertas di dalam rak meja yg selama ini berada di hadapannya itu, ia membaca satu-persatu tulisan yg ia lihat kini..

Kertas pertama bertuliskan.
‘Di kala itu.. takdir mempertemukan kita..’
Februari 2013-R.K
Lara memperhatikan  bulan yang tertera di tulisan itu, bulan februari.. Bulan februari mengingatkan ia ketika pertama masuk sekolah ini, dan ia sempat menabrak seseorang saat pertama masuk gerbang, itu benar-benar awal yg sial baginya.

Ia lanjut membaca kertas kedua.
‘dan tak pernah ku sadari.. Pertemuan awal telah mengikat benang merah di antara kita..’
Juli 2013-R.K
Juli? Dimana Saatnya semester kedua di mulai.. di semester itulah ia masih tak memperlihatkan kedekatannya dengan Damar, saat dimana ia focus belajar dan sering berada di perpustakaan.

Kertas ketika berisi.
'Benang merah… yg tak mampu merobohkan dinding tebal di antara kita..’
Desember 2013-R.K
Bulan Desember, bulan di mana ia sering menunggu Damar di kursi taman, Damar di saat itu sering sibuk latihan piano untuk kopenetnsi tahun depan, dan Lara bisa melihat kursi yang sering ia duduki itu dari arahnya sekarang, sangat terlihat jelas.

Kertas selanjutnya
'Sebenarnya takdir itu apa..?’
Maret 2014-R.K
Untuk bulan Maret, itu pertamakalinya ia bertemu Raka.

Kertas ke lima
‘aku selalu mencintaimu..’
Maret 2014-R.K
Masa-masa Lara sering bermain dengan Raka, bahkan hari ini.. Hari ini masih pada bulan yg sama, Maret.

Dan kertas terakhir
'aku tak pernah mengerti takdir.. aku hanya tau satu hal.. tadir hanya mengizinkan kita untuk.. berteman~’
Maret 2014-R.K

Berbeda dari kertas sebelumnya.. 3 kertas yg terakhir itu lebih sering di tulis pada bulan maret, tak seperti kertas sebelumnya yang berjangka waktu dalam beberapa bulan. Dan kertas ini sudah ada semenjak tahun lalu.. Berarti pemilik kertas ini sering menuliskan hal-hal tersebut di saat ia sedang duduk di tempat ini, dan sudah 1th lebih ia sering duduk di sini?.
‘siapa yang menulis hal konyol seperti ini?’
Fikir lara..
“Tapi.. tulisan ini..?”
Lara berfikir sejenak ketika ia menemukan sebuah kejanggalan pada tulisan di hadapannya.
"Aku juga suka tempat ini. Setiap hari aku sering duduk di tempat ini.."
Seketika Lara ingat ketika ia pertama kali bertemu  Raka di kursi ini. Raka sendiri yang mengatakan bahwa ia sering duduk di tempat ini.
            “Ya ampun..!! jangan-jangan..”
Lara memandang kertas itu tak percaya, fikiranya berkecamuk dengan setiap kalimat yang barusan ia baca. Apa maksud dari tiap kalimat itu?
            “Lara..”
Seseorang memanggil Lara dari kejauhan. Lara kembali menyimpan kertas itu pada tempat asalnya, ia menormalkan fikiranya, lalu menghampiri orang itu.
            “Kak Damar..”
Sambutnya, dan berusaha menampakan wajah ceria.
            “Pulang yu..”
Ajak Damar, lalu menggandeng tangan lara.. lagi-lagi lara hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Dan merekapun pergi..
‘maafkan aku, Raka..’

***
            Sementara itu, Raka masih merenungi apa yang sebenarnya terjadi padanya, mengapa ia terlihat begitu menyedihkan, ia sudah berakhir. Tak ada yang namanya kesempatan kedua, semuanya benar-benar sudah berakhir.
Raka memperhatikan sejenak setiap tumbuhan kecil yang tumbuh di sekitar kakinya, ia tersenyum sejenak..
“Setidaknya aku masih bisa menjadi temannya..”
Gumamnya pelan sambil memperhatikan daun semanggi yang tertimpa tetesan hujan dari rambutnya.
Ia mendesah pelan, lalu berusaha kembali menenangkan fikirannya.
“AAARRGGGGHHHHH…..!!!!!!!!!”
Ia berteriak kencang, lagi-lagi ia melampiaskan amarahnya.
Setidaknya hal itu kini bisa mengurangi sedikit bebannya, dan iapun kembali memperhatikan setiap objek yang ada di sekelilingnya.
“Dandelion yang basah.. kau terlihat menyedihkan.. sepertiku..”
Ucapnya pada sebatang dandelion yang terlihat basah.
Lagi-lagi ia berbicara dengan tumbuhan yg tumbuh di sekitarnya.
Sekiranya ia sudah bosan dengan pandangan yg di sekitarnya, iapun memalingkan pandangannya pada arah yang berbeda, ia melihat kembali sebuah rumah yang sejak awal membuatnya penasaran saat pertamakali sampai ke tempat ini.. ia pandang rumah itu lekat-lekat.. ia ingat masa di mana ia sempat tiggal di sebuah rumah yang jauh dari mana-mana. Namun ia tak pernah ingat dengan rumah yg pernah ia tempati selama beberapa hari itu.
Hujanpun mulai jenuh dengan aktifitasnya, matahari kini mulai menampakan wajahnya, di waktu yg sama Rakapun bangkit dan pergi dari tempat itu setelah hujan mulai benar-benar reda.

Setelah Raka melangkah pergi meninggalkan tempat itu, perlahan tempat itu memperlihatkan sebuah kenangan di mana dua orang anak kecil sempat bertemu di tempat ini.

“mah.. Anak itu masih nangis.. Aku akan ke sana.”
Iapun menghampiri seorang gadis yg sejak tadi ia perhatikan.
Setibanya di hadapan gadis itu, ia berusaha untuk mencoba menenangkan si gadis.
“Kamu kok nangis..?”
Tanyanya.
Gadis itu masih menangis
“hmm.. sepertinya kamu bakal cantik deh kalo nangisnya udahan..”
Candanya.
Namun si gadis malah cemberut.
“Hihi.. Kamu lucu deh, nih aku punya permen.. Mau? siapa tau nangisnya ilang.. Nih..”
Lanjutnya, lalu mengulurkan tangannya dan memberi gadis itu permen.
Gadis itu terdiam sejenak, lalu menerima permen itu.
“kamu lucu deh.. hihi..”
Serunya kemudian, dan perlahan gadis itu tersenyum
“Namaku Raka.. kamu?”



*END*

Komentar

Postingan Populer