[Cerpen] -My Little Candy-
My Little Candy
‘Di kala itu.. takdir mempertemukan kita..’
Sudah lebih dari satu tahun ini Raka masih tak
menghilangkan kebiasaanya, memasuki perpustakaan hanya untuk duduk manis di
kursi yg posisinya dekat dengan jendela, seperti biasa ia akan membawa buku
secara asal dan membiarkan buku itu terbuka di atas meja begitu saja, sedangkan
ia? ia hanya bisa menopang dagu dan memandang sebuah tempat dimana seorang
gadis tengah duduk di tempat itu.
Raka tak pernah memalingkan matanya pada gadis
itu. Dan tanpa sadar ia tersenyum ketika ia melihat gadis itu tak sengaja
menjatuhkan bukunya.
"gadis ceroboh.."
Ucap Raka pelan dan masih asik tersenyum seakan
gadis itu menghiburnya. Senyuman Raka sekilas terhapus oleh datangnya seorang
pria yg menghampiri gadis itu, tak ada kekagetan yg terpancar di wajah Raka.
hanya saja, Ini menjadi ekspresi yg selalu Raka miliki ketika Raka melihat pria
itu. Ya, selama ini Raka memang menyukai seorang gadis yg sebenarnya sudah
memiliki seorang kekasih, nama gadis itu Lara. Lara dan Damar memang sepasang
kekasih yg terbilang cukup harmonis, selama Raka sering memperhatikan Lara,
Raka tak pernah melihat Lara sedih atau hal yg membuat Lara marah, Damar selalu
berhasil membuat Lara tersenyum, begitu pula Lara, sikap Lara tak pernah mengecewakan
Damar, dan karna itupulalah hubungan mereka bisa bertahan sampai sejauh ini.
Raka mengalihkan pandanganya, kini kegiatan yg di
lakukanya sudah tak bernilai untuknya, iapun bangkit lalu pergi dan membiarkan
buku yg di simpannya terbuka begitu saja.
***
Sebuah senyuman terbentuk di wajah Lara ketika
seseorang yg ia tunggu kini sudah menghampirinya.
"Maaf.. Apa kau menunggu lama?"
Tanya Damar yg sedikit bersalah karna membuat
Lara menunggu.
Lara hanya menjawabnya dengan menggeleng, tak
lupa senyuman masih tergambar di wajahnya.
Damarpun membalas senyuman itu, lalu menggandeng
tangan Lara dan membawanya ke perpustakaan.
Lara
mengitari setiap rak buku di perpustakaan, dari ribuan buku yg berjejer rapi di
setiap lemari, tak ada satupun buku yg menurutnya menarik.
"Kak Damar.."
Seru Lara yg mulai bosan.
"Iya.."
Balas Damar dari arah sebrang.
"Aku bosan.. Aku tungguin sambil duduk
ya.."
Lara menunggu Damar menjawab sejenak.
"Iya.. Sepertinya aku masih belum menemukan
buku yg aku cari.."
Damar kembali sibuk mencari buku.
"Oke.."
Larapun menuju sebuah kursi di mana ada sebuah
buku tergeletak di atas meja.
"Waah.. Pemandangan dari sini bagus
juga.."
Seru Lara ketika ia takjub melihat sesuatu yg
bisa di lihatnya lewat jendela di sampingnya, iapun duduk dan memperhatikan
seluruh tempat yg ia lihat sekarang.
Setelah ia sadar ada buku yg tergeletak, iapun
mulai mengalihkan perhatiannya pada buku tersebut.
"Hamlet??"
Lara membaca judul yg tertulis pada jilid buku
itu.
"William Shakespeare..?"
Lanjutnya lagi ketika ia melihat nama yg tertulis
di bawah judul buku itu.
"Sepertinya aku pernah mendengar nama ini..
Tapi.. Siapa William Shakespeare? Hmm..
Entahlah.." #buku yg di incer author -,-
Sekiranya buku itu tak di anggapnya menarik,
iapun mengabaikannya dan memilih untuk menikmati setiap sudut pemandangan yg
dapat di lihatnya kini.
"Lara.."
Panggil Damar.
Larapun menoleh dan.. lagi lagi tersenyum.
"Bukunya udah dapet nih.. Yuk kita
pulang.."
Ajak Damar, Lara mengangguk dan menggandeng
tangan damar, lalu merekapun pergi.
***
Seperti biasa, Raka tak pernah merubah
kebiasaanya, pada jam dan tempat yg sama, ia akan pergi ke perpustakaan hanya
untuk melihat orang yang selama ini di sukainya itu.
Raka memasuki pintu perpustakaan, ia tak memilih
buku kali ini, pasalnya buku yg ia tinggalkan kemarin masih ada di tempat yg
sama, hanya saja kini posisinya berubah, yg tadinya terbuka kini jadi tertutup,
tapi Raka tak pernah mempermasalahkan hal kecil tersebut.
Raka mulai duduk di kursi yg hanya ada satu kursi
itu, ia mulai menyudutkan pandangannya pada satu titik, sebuah kursi taman
dimana Lara sering duduk di kursi itu. Tapi.. Ini untuk pertamakalinya Raka tak
menemukan sesosok yg sering di perhatikannya itu, apa mungkin hari ini ia tak
tepat waktu?
"Permisi.."
Suara seorang gadis membuyarkan lamunan Raka.
"Iy.. a?"
Ucapanya berubah gugup ketika ia mengeahui gadis
yg kini ada di hadapanya itu, Lara.
"Padahal.. aku ingin sekali duduk di sini..
Pemandangan dari sini bagus.. Apa kamu masih lama..?"
Tanya Lara.
"Eh.. Aaah.. Iy.. Iya.."
Jawab Raka gugup.
"Haha.. Kamu lucu deh.. Namaku Lara..
Kamu?"
Lara mengulurkan tangan kanannya, dan ini untuk
pertamakalinya ia berkenalan dengan pria yg baru di kenalnya.
"Ra.. Raka.."
Balas Raka dengan nada yg masih gugup.
"Haha.. Ngga perlu segugup itu.. Nih aku
punya permen.. Mau? Siapa tau gugupnya ilang.. Nih.. Hhe"
Ujar Lara yg sontak membuat Raka malu.
Rakapun menerima permen itu.
"Makasih.."
Lanjut Raka.
"Umm.. Itu ada kursi kosong.. Aku bawa ke
sini ya?"
Tunjuk lara pada sebuah kursi. Raka hanya bisa
mengangguk.
Larapun menggeser kursi yg ada di belakang Raka
dan memposisikan kursi itu agar mereka duduk saling berhadapan.
"Aku suka tempat ini.."
Lara memulai perbincangan.
"Aku juga suka tempat ini. Setiap hari aku
sering duduk di tempat.."
Raka mulai menuntun topik pembicaraan.
"Oh ya? Wah.. Pantesan, Aku baru tau kalau
pemandangan dari sini itu indah.."
Lara mulai tertarik dengan perbincangan Raka.
"Kalo kamu mau.. Kamu boleh kok tiap hari ke
sini.. Kita bisa ngobrol seperti ini lagi.."
Raka memulai sedikit kemajuan.
"Sepertinya begitu.. Lagian kak Damar
akhir-akhir ini lagi sibuk buat persiapan ujian.. Jadi aku bosan kalau nunggu
sendiri.. Tapi, karna sekarang ada kamu.."
Lara terdiam sejenak.
"Kita bisa bertemu setiap hari di
sini.."
Raka melanjutkan ucapan Lara.
"Ya, sepertinya begitu.."
Seru Lara. Merekapun tersenyum dan kembali
melanjutkan perbincangan mereka.
"Lara.."
Suara seseorang sejenak membuat mereka hening.
"Raka.. Sepertinya kak Damar udah.. Aku
duluan ya.. Sampai ketemu lagi.."
Lara bangkit dan pergi menghampiri Damar,
sesekali Lara tersenyum menoleh pada Raka dan Raka hanya bisa membalasnya
dengan senyuman pula.
‘Apa yang aku lakukan barusan?’
Fikir Raka,
Lalu ia merenung sejenak dan memperhatikan
pemandangan yang sekiranya di kagumi oleh Lara itu.
“Ya, memang indah.. sama, seperti saat aku
melihatmu..”
Ucapnya pelan, lalu terhanyut oleh suasana yg di
sajikan alam itu.
***
Hari ini tak seperti
biasanya Raka bangun kesiangan, setelah ia sadar kini jam menunjukan pukul 06.55
iapun bergegas membersihkan diri.
“Ahh.. sialll…!”
Gerutu Raka di sela
heboh mempersiapkan diri, 10 menit berlalu iapun secepat kilat keluar rumah dan
menaiki motornya.
Setibanya di depan
gerbang, ia hanya bisa memandang pasrah bangunan tinggi dengan gerbang yg sudah
terkunci rapat itu.
“Paak.. bukain dong..”
Pinta Raka pada
seorang satpan yang kini sedang berdiri di balik gerbang.
“Jam berapa sekarang…?”
Tanya satpam itu
dengan nada tegas
“baru jam 07.35 pak..”
Jawab Raka memelas.
“gerbang ini di tutup jam 06.55!!
kamu masih berani datang jam segini..!!”
“tapi pak.. aku belum pernah
kesiangan.. ini baru pertama kalinya pak.. beneran..! gerbangnya buka ya..”
“gak bisa! Ini sudah peraturan
sekolah.. tidak ada siswa yang malas bangun di sekolah ini…!!”
“Tapi paaakk…”
Di sela ia meronta dan
memohon, ada seseorang yang menarik tangan Raka.
Awalnya Raka ingin
melawan, namun setelah ia tau orang itu..
“Lara..!”
Seru Raka kaget.
“Ssstt..”
Lara membawa Raka
menjauh dari gerbang agar tak terlihat oleh satpam yang tadi.
“Kamu juga kesiangan?”
Tanya Raka dengan nada
berbisik.
“makanya.. hari ini kita bolos aja
yuu?”
“eehh..?”
Tak bisa di percaya,
ternyata Lara orangnya seperti ini.
“Udah ahh.. mending kita pergi yuu..
aku tau tempat yang bagus di sekitar sini.. Ayoo..”
Lara menuntun tangan
Raka mendekati motor Raka, Raka awalnya bingung dan ragu.. Namun, apa boleh
buat, ini kesempatan yang tak boleh Raka sia-siakan, kapan lagi mereka berdua
seperti ini, di tambah untuk pertamakalinya Raka melihat Lara tanpa Damar,
sepertinya Raka bisa bebas bersama Lara hari ini.
Mereka berduapun
menaiki motor Raka untuk memulai perjalanan.
“Eh.. apa pacarmu tak akan marah?”
Tanya Raka di tengan
perjalanan.
“Maksud kamu Kak Damar? Kamu tau
kita pacaran? Hh~ Lagi-lagi semua orang menganggapnya begitu”
“eeh? Maksudnya?”
“udah ah.. kamu focus aja ama
jalan.. ntar aku certain deh..”
Rakapun memilih diam
dan menuruti apa yang Lara katakan.
***
Mereka berhenti tepat
di tepi hutan.. Hutan? sepertinya tempat ini bukan hutan.. hanya saja terlihat
seperti hutan.
“Ini..?”
Tanya Raka ragu
“Udah.. ayo ikut aja..”
Lara menyeret Raka
masuk ke dalam, setelah beberapa langkah mereka berjalan, kini penglihatan
mereka di suguhkan oleh sebuah Pohon besar yg berdiri sangat kokoh nan rindang.
Pada salah satu ranting pohon itu tergantung pula dua buah ayunan tua yang
terlihat masih kuat.
Raka tak mempercayai
ini, di dalam sebuah hutan (setidaknya mirip hutan) ia bisa melihat tempat
indah seperti ini. Dan pohon itu tak sendirian, banyak sekali tanaman kecil
tumbuh di sini, meksi pohon itu berdiri di tengah rumput kecil sehingga
membuatnya terlihat begitu mencolok, tanaman yg tumbuh di sekitar pohon itupun
tak kalah indahnya dan turut menemani kehindahan di sekitarnya.
“Aku suka tempat ini..”
Seru Lara sambil
berjalan menghampiri sebuah ayunan.
“di sini bukan hanya sejuk.. tapi
aku bisa bermain dengan bunga dandelion yang tumbuh di sekitar sini.. daun
semanggi juga tak membuatku bosan untuk melihatnya..”
Lara mulai berbicara
panjang lebar, sementara itu Raka hanya bisa mendengarkannnya dan ikut
terhanyut oleh setiap perkataan Lara, derap langkahnya tak henti mengikuti
setiap langkah Lara, sampai ia ikut duduk di sebuah ayunan yg berada di samping
Lara.
“Hmm.. tempat ini memang nyaman,
tapi.. rumah itu?”
Raka menunjuk sebuah
gubuk yang terlihat sedikit tua, gubuk itu posisinya terlihat cukup jauh dari
arah mereka berada.
“ahh.. Rumah itu sudah lama tak
berpenghuni.. entahlah.. aku tak pernah tau siapa yang tinggal di sana.”
Raka hanya bisa mengangguk
pertanda mengerti.
“Lalu.. bagaimana kamu bisa tau
tempat seperti ini..?”
“ceritanya cukup konyol dan sedikit
memalukan.. tapi, baiklah akan aku ceritakan..”
Raka mulai antusias,
ia tak pernah menyangka Lara bisa sampai sejauh ini padanya, padahal mereka
baru berkenalan.
“Jadi..”
Lara mulai bercerita
“Tempat tinggalku berada di sekitar
sini.. Dan dulu waktu aku masih kecil….”
Memory Lara kembali mengulangg menuju masa di mana ia pertama kali ke
tempat ini.
Malam itu, Lara
menangis mendengar kedua orang tuanya terus-terusan bertengkar, ia tak tahan
jika harus terus-terusan menahan batinnya di kamar sendirian, ia memang tak
mengerti apapun waktu itu, tapi ia bisa mengerti dengan jelas bahwa mereka
sedang mempermasalahkan sesuatu, seperti halnya ia dengan temannya, jika sudah
saling marah mereka akan saling enggan untuk rukun, begitu juga kini dengan
orang tua Lara. Lara sudah tak tahan dengan suara keras yang membisingkan
telinganya itu, akhirnya ia memutuskan untuk kabur dari rumah dan menangis sesukanya
di suatu tempat. Malam itu Lara tak
tau harus kemana ia pergi, ketika ia merasa kakinya sudah lelah Lara melihat
sebuah pohon dan dua buah ayunan mengantung di sana, akhirnya ia memutuskan
untuk duduk di ayunan itu dan menangis sepuasnya. Dan semenjak itulah Lara
menemukan sebuah tempat yang baik untuknya, setidaknya ia tak mendengar orang
tuanya bertengkar lagi di tempat itu.
“Jadi begitu..”
Ujar Lara ketika ia
selesai bercerita.
“ohh.. tapi malam-malam gitu.. kamu
ngga takut.. padahal tempat ini luarnya serem tau..”
“aku udah biasa tinggal di sini..
jadi.. Apa yg perlu aku takuti, lagian aku tak percaya ama hantu atau
semacamnya..”
“Ah.. gitu ya..”
Raka manggut-manggut
“oh iya.. tadi katanya
kamu mau cerita soal.. Damar?”
Raka mulai bertanya pada
topik yg paling penting.
“Aku fikir kamu udah lupa karna
barusan aku udah cerita panjang lebar.. ternyata kamu orangnya penasaran banget
ya..”
"Yaaa.. gitu deh.. mau di
certain ngga nih?”
“Oke deh.. jadi.. waktu aku nangis
itu..”
“Nangis yang malam itu, yang di
sini, waktu kamu kecil?”
Potong Raka
“Iya.. dengerin dulu ah..”
Rakapun diam
“Waktu itu, ada seorang anak sebaya
aku yg dateng ke sini, dia ngasih aku permen waktu aku lagi nangis di sini,
anak itu habis-habisan ngehibur aku supaya aku berhenti nangis, alhasil dia
benar-benar kerja keras dan membuatku tersenyum, di saat itu aku benar-benar
lupa soal orang tuaku, dia benar-benar menghiburku..”
“Itu Damar..?”
Lagi-lagi Raka
memotong pembicaraan.
“Mungkin iya, mungkin bukan.. tapi
semenjak hari itu, saat aku ingin menemuinya lagi di sini, aku sudah tak pernah
melihatnya lagi.. dan aku tak pernah ingat siapa namanya.. satu hal yang masih
ku ingat.. dia pernah tinggal di rumah itu..”
Tunjuk Lara pada gubuk
yg tadi di tanyakan Raka.
“Jangan jangan..”
Raka mulai memancing
aura horor.
“Bukan..! Bukan hantu..!!! aku ngga
percaya yang begituan..”
“iya iya.... lanjutin ceritanya..”
“Dan semenjak itu, aku terus
menunggu dan menunggu.. Tapi tetap saja aku tak pernah melihatnya lagi di
sini.. Waktu itu aku berjanji, jika kelak aku bertemu denganya nanti, aku ingin
mencintai orang itu sepenuhnya.. Karna bagaimanapun juga, aku tak pernah merasa
sebahagia itu ketika bersamanya, meskipun ini terbilang cukup konyol, tapi
apapun itu.. Aku ingin terus bersamanya.. Sungguh.
Dan tahun demi tahun
berlalu, ketika aku menginjakan kaki di jenjang SMP, aku sempat menangis karna
waktu MOPD aku terus terusan di caci maki oleh senior, dan di saat aku nangis,
ada seorang pria yg memberiku permen dan menghiburku.. Yg aku fikirkan pda
waktu itu, takdir benar-benar berpihak padaku, sepertinya aku bertemu dengan
seseorang yg selama ini aku nanti.. Dan semenjak itu aku sering mengikutinya
dan terus berada di sekitarnya dan memintanya untuk menjadi bagian dari
hidupku.. Namun ia tak bisa memenuhi harapanku.. Dan kami hanya menjalin
hubungan sebatas teman, namun kedekatan kami yg semakin lama terlihat begitu
menonjol hal itulah yg membuat banyak orang beranggapan salah..”
“Jadi itu Damar, dan selama ini
kalian ngga pacaraan?”
Tanya Raka setengah
kaget.
“Ya.. begitulah..”
“Jadi selama ini yg orang lain
katakan itu..?”
“kak Damar memilih untuk diam dan
membiarkan semua gossip menghambur sesukanya, ia tak pernah ambil pusing, toh
kita memang dekat.. dan kak Damar tak pernah tertarik soal cinta.. ia lebih
memilih kesuksesan, baru ia bisa pacaran..”
Hati Raka serasa ingin
berteriak saat ini juga, dan sekarang tak ada kata lain selain kata bahagia di
benaknyaa, pintu benar-benar terbuka lebar untuknya.
“Lara.. sebenarnya..”
Hp Lara berbunyi
ketika Raka angkat suara.
Di lihatnya layar
ponsel tersebut, dan terdapat satu pesan dari Damar.
“Raka.. ternyata kita keasikan di
sini.. ini saatnya jam pulang.. kamu mau ke sekolah lagi? Aku mau ke perpus,
sepertinya kak Damar nunggu aku di sana.. yu..”
Tanpa fikir panjang
dan melupakan apa yang akan Raka katakana, Rakapun menuruti Lara.
***
“Kak Damar..”
Lara menghambur ke
arah Damar yang sedang memilah-milah buku, sedangkan Raka hanya berjalan
mengikuti arah Lara.
“Kamu hari ini bolos?
Tadi aku nyari ke kelas katanya kamu ngga sekolah”
“Hehehe.. maaf, aku
kesiangan.. yaudah.. bolos aja sekalian.. hehe..”
“lain kali jangan
seperti itu lagi..”
“hehe.. maaf..”
Lara hanya bisa
menjawab semuanya dengan cengengesan.
“Siapa?”
Tunjuk Damar pada Raka.
“Oh.. kenalin.. ini Raka.. temen
Lara..”
Raka mengangkat tangan
kananya.
“Raka..”
Damar menyambut uluran
tangan Raka.
“Damar..”
Mata mereka saling
bertemu, namun itu tak bertahan lama.
“oh iya.. Lara, hari ini aku harus
ngerjain banyak tugas.. yu sekarang kita pulang..”
“Iya kak. Raka, aku duluan ya..
sampai ketemu nanti..”
Sementara Lara dan
Damar pergi, Raka hanya bisa memandang mereka berdua dari belakang.
'Inilah resiko yg
selalu aku takuti sejak dulu.. Meski dekat.. Namun.. Tetap terasa jauh..'
***
"Lara.."
Damar memecah keheningan di tengah perjalanan.
"Iya.."
Lara tanpa menoleh tetap fokus berjalan, namun ia
tetap mendengarkan.
"Sebelum
terlambat, aku ingin kau mau mengabulkan harapanku.."
Lara masih terdiam, ia menunggu Damar melanjutkan
perkataanya.
"Berjanjilah
untuk terus di sampingku."
Lara menghentikan langkahnya
Damar ikut berhenti, lalu mereka saling berhadapan.
"Jangan terlalu
dekat.. dengan pria lain.. Selain aku”
Dipeluknya seseorang di hadapannya itu. Tak pernah
terpikirkan olehnya, ia akan bertindak sejauh ini pada Lara.
Lara terbelalak kaget, tak pernah bisa menyangka,
Damar akan seperti itu padanya,
"Aku ingin, kita
terus seperti ini.. Selalu bersama seperti ini.. Setiap hari..
Selamanya.."
Lanjut Damar yg masih memeluk Lara.
Tak lama, pelukan itupun mereka lepas.
"Aku berhasil
mendapat beasiswa sekolah di Jerman.. Ikutlah bersamaku.. Kita akan tinggal di
sana bersama.."
Damar memandang lekat wajah Lara.
Lara tak mempercayai setiap perkataan yg keluar
dari mulut damar kali ini, matanya mulai berkaca-kaca.
"Eum..!! Tentu
saja, Aku mau..!! Aku mau..!!"
Teriak Lara antusias dengan anggukan semangat, lalu
kembali memeluk seseorang yg kini sangat berarti itu, tak lupa air mata
kebahagiaan perlahan membasahi pelopak mata Lara.
Damar tersenyum bahagia, lalu ia membalas pelukan
hangat Lara, dan mengelus lembut rambut Lara.
"Aku
mencintaimu.. Lara.."
***
Hari ini seperti
biasa pada waktu dan tempat yang sama.
samar-samar Raka tersenyum menunggu Lara di kursi perpustakaan tempat biasa mereka
ngobrol. Sampai saat ini ia sulit mempercayai kejadian beberapa hari lalu,
selama ini ia memendam rasa sukanya pada seorang gadis yg tak pernah bisa ia
gapai. Namun sekarang.. Sekarang bahkan hari-hari sebelumnya mereka kini sudah
menjadi dekat, setidaknya tahap awal menuju puncak yg Raka inginkan.
"Raka..!"
Teriak Lara dari kejauhan, lalu ia berlari dan
menghambur di kursi yg kini ada di hadapan Raka. Raka tersenyum lebar
menyambutnya.
"Raka..!! Kamu
tau gak??? Aku lagi seneeeeng..!!"
Seru Lara.
Raka sedikit heran.
"Kenapa?"
*inget iklan biskuat,.. -,-
"Kak Damar.. Kak
damar kemarin nembak aku..! Huaaa.."
Lara lagi-lagi tak bisa menyembunyikan
kebahagiaanya.
Sedangkan Raka, kini hanya bisa bungkam.
"Ka? Kamu
kenapa?"
Raka menggeleng kikuk.
"Ehh.. Aaah,,
begitu ya.. Sukurlah, Akhirnya rasa sukamu terbalas olehnya.."
Raka berusaha
tersenyum.
"Eum..! Bahkan
Damar ngajak aku tinggal di Jerman bareeng.. Huaaaa..!! Penantianku terbalas
Raka.. Aku bahagiaa..!"
"Selamat ya.. Aku
senang jika kamu benar-benar bahagia.. Setidaknya akupun bahagia.."
Raka masih berusaha
terlihat senang.
"Ya tenu saja..!
Makasih Raka.. Dan Aku masih tak menyangka.. Jika memang si anak permen itu
Damar.. Berarti aku tak mengingkari janjiku dan takdir benar-benar berpihak
padaku.. Namun, Jika anak itu bukan kak Damar.. aku merasa sangat bersalah
padanya.. Jika takdir memberiku kesempatan untuk bertemu denganya, aku sangat
ingin sekali mengatakan padanya.. Bahwa Aku pernah mencintainya dan selalu
menunggunya.. Tapi.. Sekarang semuanya sudah terlambat.. Tak ada harapan lagi
untuknya.. Aku sangat menyesal jika aku tak pernah di pertemukan
denganya.."
Raka kini hanya terdiam.
"Hey.. Raka, kamu
kenapa..?"
"Eh? Ah.. Anu..
Aku ada urusan sebentar.. Aku pergi dulu ya.."
Raka kemudian membereskan buku dan tasnya yg
berserakan di atas meja.
"Eh.. Raka..! Aku
ikut..!"
Lara bangkit sejenak.
"Jangan..! Tunggu
Damar di sana.. Dia pasti sebentar lagi datang.."
Larapun mengurungkan niatnya dan kembali duduk.
Sementara Raka pergi, Lara hanya bisa memandang heran
kepergian Raka.
***
Di luar hujan.. Dan
Raka tak peduli dengan ribuan air yg jatuh menimpa dirinya, kepalanya masih
menunduk, fikiranya masih kalut dengan kejadian yg entah mengapa datang secara
tiba-tiba ini.
'Berakhir sudah hidupku..'
Fikirnya.
Apa yg harus ia lakukan sekarang? Harapanya pergi..
Cintanya hilang..
Tak seharusnya ia dekat dengan gadis itu..
Kedekatannya selama ini sama saja dengan ia mendekati keterpurukanya, jika
selama ini hal ini yg ia tau.. Mengapa? Mengapa ia masih ingin bersamanya?
Raka menaiki motornya,
dan mulai melaju entah kemana ia akan pergi, di tengah perjalanan ia sesekali
berteriak mengeluarkan semua amarahnya, air hujan kini tak menjadi
penghalangnya, hujan kini telah membantunya menyamarkan airmatanya.
Satu jam ia lewati di perjalanan, akhirnya iapun
berhenti di suatu tempat, Ya.. Satu-satunya tempat dimana ia bisa menyendiri
dengan tenang. Sebuah pohon besar yg memiliki dua buah ayunan. Ia pergi ke
tempat itu, dan duduk termenung di salah satu ayunan dengan kepala yg masih
tertunduk.. Dan, tetap menangis.
Sementara itu di
saat Lara menunggu Damar, ia menemukan
banyak lembaran kertas di dalam rak meja yg selama ini berada di hadapannya
itu, ia membaca satu-persatu tulisan yg ia lihat kini..
Kertas pertama bertuliskan.
‘Di kala itu.. takdir mempertemukan kita..’
Februari 2013-R.K
Lara memperhatikan bulan yang tertera di tulisan itu, bulan
februari.. Bulan februari mengingatkan ia ketika pertama masuk sekolah ini, dan
ia sempat menabrak seseorang saat pertama masuk gerbang, itu benar-benar awal
yg sial baginya.
Ia lanjut membaca kertas kedua.
‘dan tak pernah ku sadari.. Pertemuan awal telah
mengikat benang merah di antara kita..’
Juli 2013-R.K
Juli? Dimana Saatnya semester kedua di mulai.. di
semester itulah ia masih tak memperlihatkan kedekatannya dengan Damar, saat
dimana ia focus belajar dan sering berada di perpustakaan.
Kertas ketika berisi.
'Benang merah… yg tak mampu merobohkan dinding
tebal di antara kita..’
Desember 2013-R.K
Bulan Desember, bulan di mana ia sering menunggu
Damar di kursi taman, Damar di saat itu sering sibuk latihan piano untuk
kopenetnsi tahun depan, dan Lara bisa melihat kursi yang sering ia duduki itu
dari arahnya sekarang, sangat terlihat jelas.
Kertas selanjutnya
'Sebenarnya
takdir itu apa..?’
Maret 2014-R.K
Untuk bulan Maret, itu pertamakalinya ia bertemu
Raka.
Kertas ke lima
‘aku selalu mencintaimu..’
Maret 2014-R.K
Masa-masa Lara sering bermain dengan Raka, bahkan
hari ini.. Hari ini masih pada bulan yg sama, Maret.
Dan kertas terakhir
'aku tak pernah mengerti takdir.. aku hanya tau
satu hal.. tadir hanya mengizinkan kita untuk.. berteman~’
Maret 2014-R.K
Berbeda dari kertas sebelumnya.. 3 kertas yg
terakhir itu lebih sering di tulis pada bulan maret, tak seperti kertas
sebelumnya yang berjangka waktu dalam beberapa bulan. Dan kertas ini sudah ada
semenjak tahun lalu.. Berarti pemilik kertas ini sering menuliskan hal-hal
tersebut di saat ia sedang duduk di tempat ini, dan sudah 1th lebih ia sering
duduk di sini?.
‘siapa yang menulis hal konyol seperti ini?’
Fikir lara..
“Tapi.. tulisan
ini..?”
Lara berfikir sejenak
ketika ia menemukan sebuah kejanggalan pada tulisan di hadapannya.
"Aku juga
suka tempat ini. Setiap hari aku sering duduk di tempat ini.."
Seketika Lara ingat ketika ia pertama kali
bertemu Raka di kursi ini. Raka sendiri
yang mengatakan bahwa ia sering duduk di tempat ini.
“Ya
ampun..!! jangan-jangan..”
Lara memandang kertas itu tak percaya, fikiranya
berkecamuk dengan setiap kalimat yang barusan ia baca. Apa maksud dari tiap
kalimat itu?
“Lara..”
Seseorang memanggil Lara dari kejauhan. Lara
kembali menyimpan kertas itu pada tempat asalnya, ia menormalkan fikiranya,
lalu menghampiri orang itu.
“Kak
Damar..”
Sambutnya, dan berusaha menampakan wajah ceria.
“Pulang
yu..”
Ajak Damar, lalu menggandeng tangan lara..
lagi-lagi lara hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Dan merekapun pergi..
‘maafkan aku, Raka..’
***
Sementara itu, Raka masih merenungi
apa yang sebenarnya terjadi padanya, mengapa ia terlihat begitu menyedihkan, ia
sudah berakhir. Tak ada yang namanya kesempatan kedua, semuanya benar-benar
sudah berakhir.
Raka
memperhatikan sejenak setiap tumbuhan kecil yang tumbuh di sekitar kakinya, ia
tersenyum sejenak..
“Setidaknya aku masih bisa menjadi temannya..”
Gumamnya
pelan sambil memperhatikan daun semanggi yang tertimpa tetesan hujan dari
rambutnya.
Ia
mendesah pelan, lalu berusaha kembali menenangkan fikirannya.
“AAARRGGGGHHHHH…..!!!!!!!!!”
Ia
berteriak kencang, lagi-lagi ia melampiaskan amarahnya.
Setidaknya
hal itu kini bisa mengurangi sedikit bebannya, dan iapun kembali memperhatikan
setiap objek yang ada di sekelilingnya.
“Dandelion yang basah.. kau terlihat
menyedihkan.. sepertiku..”
Ucapnya
pada sebatang dandelion yang terlihat basah.
Lagi-lagi
ia berbicara dengan tumbuhan yg tumbuh di sekitarnya.
Sekiranya
ia sudah bosan dengan pandangan yg di sekitarnya, iapun memalingkan
pandangannya pada arah yang berbeda, ia melihat kembali sebuah rumah yang sejak
awal membuatnya penasaran saat pertamakali sampai ke tempat ini.. ia pandang
rumah itu lekat-lekat.. ia ingat masa di mana ia sempat tiggal di sebuah rumah
yang jauh dari mana-mana. Namun ia tak pernah ingat dengan rumah yg pernah ia
tempati selama beberapa hari itu.
Hujanpun
mulai jenuh dengan aktifitasnya, matahari kini mulai menampakan wajahnya, di
waktu yg sama Rakapun bangkit dan pergi dari tempat itu setelah hujan mulai
benar-benar reda.
Setelah
Raka melangkah pergi meninggalkan tempat itu, perlahan tempat itu
memperlihatkan sebuah kenangan di mana dua orang anak kecil sempat bertemu di
tempat ini.
“mah..
Anak itu masih nangis.. Aku akan ke sana.”
Iapun
menghampiri seorang gadis yg sejak tadi ia perhatikan.
Setibanya
di hadapan gadis itu, ia berusaha untuk mencoba menenangkan si gadis.
“Kamu
kok nangis..?”
Tanyanya.
Gadis
itu masih menangis
“hmm..
sepertinya kamu bakal cantik deh kalo nangisnya udahan..”
Candanya.
Namun
si gadis malah cemberut.
“Hihi..
Kamu lucu deh, nih aku punya permen.. Mau? siapa tau nangisnya ilang.. Nih..”
Lanjutnya,
lalu mengulurkan tangannya dan memberi gadis itu permen.
Gadis
itu terdiam sejenak, lalu menerima permen itu.
“kamu
lucu deh.. hihi..”
Serunya
kemudian, dan perlahan gadis itu tersenyum
“Namaku
Raka.. kamu?”
*END*


Komentar
Posting Komentar