[Cerpen] -Regret-

Regret
'Terkadang, aku cemas..'
-25 September 2007-
Raisa membuka kembali lembar demi lembar kertas lusuh di hadapannya itu. Terkadang kata demi kata, membentuk seuntai makna yang tergores rapi di buku itu membuat hatinya terasa perih. Mengingat satu makna dari kata ‘Kasih Sayang’ yang tak sanggup dipahamiya, membuatnya enggan untuk mengungkapkan kebenaran yang selama ini terbungkam. Terbungkam dalam jurang penyesalan, penyesalan yang kini tak sanggup  dirasakannya.
Raisa kembali membuka lembaran kertas dihadapannya itu, tangannya berhenti sejenak lalu membaca kutipan yang tertulis di hadapannya kini.
'Ia tersenyum.. bersama seseorang di hadapannya.. Hatiku menangis..’
-31 Oktober 2009-
Pikiran Raisa berkecamuk dengan makna dari berbagai kata yang kini disaksikannya itu, penglihatanya mulai berlinang air mata, tangannya membungkam mulutnya keras, mencoba menahan isakan tangis yang sebentar lagi akan keluar,
'Andai di kala itu aku mengetahui kebenaran..'
Pikirannya masih terfokus akan kata penyesalan, Kini tanpa sadar airmatanya mengalir deras, ia sudah tak sanggup membuka lembar demi lembar kertas lusuh yang selama ini menyaksikan kisah hidup seseorang yang disayanginya itu.
***
#1 Aku dan Kakakku
Seperti biasa, Raisa dan Darma akan berangkat bersama ke sekolah, namun hari ini berbeda, Raisa sempat membuat Darma kesal, pasalnya kali ini Raisa benar-benar lama, tidak seperti biasanya, dan itu cukup membuat Darma menggerutu.
"Rai cepet..!! Entar kesiangan ah..!" Teriak Darma dari ruang tengah yang sedang sarapan,
"Kakak duluan deh..! Aku bareng Raka hari ini..!!" Raisa berteriak menggema dari kamar atas.
Darma menghentikan aktivitas makannya sejenak, dan berpikir, 'Raka?'
si Raka rekan timnya yang sekarang jadi kapten tim basket itu? Pikirnya lagi. Tak lama kemudian terdengar bunyi klakson motor, terlihat pula Raisa muncul menuruni tangga dengan tergesa-gesa dan langsung menuju arah pintu depan tanpa menoleh ke arah Darma.
"Kak,, aku duluan.."
Raisapun menghilang di ambang pintu.
"Hey..! Sarapanya..!"
Darma bangkit, ia meneguk susu segelas sambil mengaitkan tasnya di pundak, lalu menyusul Rai keluar.
"Hari ini nggak sarapan..!!" Teriak Rai dari luar.
Darma menutup pintu rumahnya. Darma sempat terdiam sejenak melihat pemandangan yang tak sengaja mengusik penglihatannya, bagaimanapun juga ia tak pernah melihat adiknya sekali pun dekat dengan seorang pria, dan ini untuk pertama kalinya ia melihat Rai bersama seorang pria. Darma mungkin memaklumi satu hal, anak remaja menjadi sepasang kekasih itu wajar untuk seumuran mereka, tapi Rai berbeda, dia bukan tipe wanita yang mudah bergaul dengan pria dan ia bukan tipe yg suka pacaran. Rai tipe wanita yang lebih memilih pelajaran daripada hal seperti itu.
"Kak Darma, aku duluan ya..!" Teriak Rai yg membuyarkan lamunan Darma.
"Oke! Hati-hati..!!"
Darma sempat berpapasan mata dengan Raka, namun itu tak bertahan lama, motor Raka kini melaju dengan pelan dan mulai tak terlihat hingga ujung jalan.
Raka? Mengapa harus Raka? pikir Darma lagi.
***
Darma memasuki kelas Rai, tak ada niat tertentu untuknya kali ini, hanya saja ia ingin melihat Rai di sekolah. Tapi ketika memasuki kelas, ia tak menemukan sesosok yang dicarinya itu.
"Kak Darma nyari Rai?" Tanya seorang gadis di kelas, kemudian Darma meresponnya dengan anggukan.
"Rai di kantin sama Raka"
Darma terdiam sejenak.
"Oh,, thanks ya.."
Darma pun ke luar dari kelas Rai, dan mengurungkan niat awalnya untuk bertemu Rai.

Di sepanjang koridor, Darma masih memikirkan kejadian langka yang tengah ia saksikan tadi pagi, “bagaimana mungkin seorang Raisa dijemput oleh seorang pria?” kini pikirannya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak..
“tunggu.. jangan-jangan.. mereka beneran pacaran?”
‘Pacar? pacaran?’ Lagi-lagi Darma berpikir keras dengan satu kata yg memiliki berbagai makna itu. Sanggupkah ia menerima kenyataan bahwa kini adiknya sudah memiliki seorang Pacar? Lalu bagaimana dengan perasaan yang sebenarnya sudah sejak lama ia pendam pada Raisa? Bukankah selama ini ia tak pernah memandang Raisa sebagai seorang adik, melainkan seorang gadis? Apakah semuanya akan berakhir begitu saja hanya karena kata ‘Pacar’ kini sudah mengikat adiknya dengan pria lain?
Langkah Darma terhenti ketika tanpa sadar ia sudah berada di dekat kantin, dadanya mendadak sesak ketika matanya menangkap sesosok yg di carinya kini tengah tertawa di hadapan seorang pria yang kini mungkin tengah mengubah status mereka dari rekan menjadi saingan.
“Seperti inikah rasanya cemburu?” Darma mengusap dadanya pelan, lalu pergi.
#2 Arti Sebuah Perasaan
Raisa lagi-lagi tertawa ketika mendengar lelucon yang di ucapkan Raka, dan itu tuntas membuat tawa Rai pecah terbahak-bahak. 
“Raka.. kamu itu orangnya asik banget ya,, gokil tau..! haha..!”
Raisa tak henti-hentinya memuji tingkah lucu Raka, ia tak bisa menahan tawanya lagi.
Raka kembali berceloteh panjang lebar, dan lagi-lagi setiap perkataan Raka membuat Raisa tak sanggup menahan tawa.
            “Hahahahaa…!!!!!! Udah ka udah,, sakit perut nih. haha..!!”
Raisa memegangi perutnya yang sudah sakit karena terus –terusan tertawa. Beberap detik kemudian  tawanya terhenti ketika ia melihat sosok Darma menjauh dari kantin dengan lesu dan tanpa gairah.
“Kak Darma?” Pikirnya, dan tiba-tiba tawanya pun redup hinga Rakapun terabaikan.
            “hey Rai.. kamu ngelamun ya..?”
Raka mengibaskan tangannya di depan mata Rai.
            “Ka.. aku ke kelas duluan ya..”
Raisa merespon Raka sekilas, ia pun bangkit dan pergi tanpa menghiraukan Raka yg sedikit kebingungan.
            “Oh.. yaudah, hati-hati..’
Raka memandang Rai heran.
Sementara itu di pertengahan koridor Raisa tak jauh berbeda dengan Darma, kini giliran ia memikirkan kakak yang selama ini di sayanginya itu. Tak bisa dipungkiri, selama ini rasa sukanya masih tertanam untuk Darma, bagaimana tidak? Selama ini kakak yang disayanginya itu memperlakukan ia dengan sangat baik, bahkan Raisa sempat lupa bahwa di dunia ini bukan hanya Darma satu-satunya pria yang dapat disayanginya. Dia juga berhak punya pria lain yang setidaknya layak menerima kasih sayang lebih darinya, bukan hanya untuk seorang kakak, itu terlalu janggal. Namun apa boleh buat, usahanya menjadi seorang kekasih untuk Raka  tak pernah bisa membantu menghilangkan rasa sukanya pada Darma, kakak yang selama ini disayanginya.
#3 Antara Dusta dan Rasa
Raisa memasuki kamarnya, seperti biasa di kala malam tiba, sebelum tidur ia akan mengisi buku kesayangannya yg akan menemaninya mendokumentasikan sejarah hidupnya.
Ia mulai menuliskan sebuah kalimat
'apa aku salah menyukainya..?'
Ia berpikir sejenak, tak sepantasnya ia menulis kalimat tersebut. Bukan hanya cemas, kasih sayang yg diberikannya memang benar-benar tak wajar. Ia melakukan sesuatu hal yg benar-benar fatal, bagaimanapun juga ia tak boleh menyukai kakak kandungnya sendiri, itu tidak benar.
Namun, ia mencoba menghibur diri dengan menulis tambahan.
'Aku harus mencintai Raka dengan tulus..'
Raisa menutup diarynya, lalu tertidur lelap.

~6 Bulan kemudian~
            Akhir-akhir ini Raisa sering pulang malam, dan itu cukup membuat Darma khawatir. Hubungan Raisa dengan Raka memang semakin membaik, tetapi kata baik belum tentu mendatangkan hal baik pula. Dan malam ini, sudah pukul 11 Raisa masih belum pulang, di luar hujan begitu deras, dan itu sukses membuat hati Darma bertambah cemas.
Darma mencoba menghubungi Raisa, tapi ponsel Raisa tidak aktif. Darma pun menghubungi Raka, tak ada jawaban dari sang empunya ponsel. Akhirnya tanpa berfikir panjang, ia langsung bergegas menuju garasi mobil dan mencari Raisa. Di sepanjang perjalanan, pikirannya terfokus pada satu tempat, rumah Raka. Namun setibanya di sana, ia tak menemukan keberadaan mereka berdua. Darma bingung, harus kemana ia mencari, tak ada satu pun dari mereka yg bisa dihubunginya.
Darma akhirnya mengingat satu hal, ada satu tempat. Tempat itu sering dikunjungi Raka. Panti Asuhan tempat Raka dan Darma tumbuh bersama.
Darmapun repleks memutar mobilnya dan melaju kencang menuju Panti Asuhan tempat mereka tinggal dulu.
***
            Darma mengetuk pintu berkali-kali, masih tak ada jawaban.
“Permisi..!!”
Dia mengetuk ulang pintu di hadapannya itu, tak lama terdengar suara pintu terbuka.
“Eh,, Den Darma.. ada perlu apa ya Den.. ayo sini masuk..”
Bi Sumi yang barusan membuka pintu mempersilahkan Darma masuk.
            “Apa Raka ada di sini bi..?”
sementara Darma duduk, bi Sumi mengambil secangkir teh untuk Darma.
            “Den Raka akhir-akhir ini sudah jarang ke sini Den..”
Darma terdiam sejenak, kini ia semakin bingung. Melihat tubuh Darma yang sedikit menggigil, Bi Sumipun menawarkan secangik teh hangat untuk Darma.
            “Makasih Bi.. maaf jadi ngerepotin..”
Tak lama terdengar benturan kilat yang mendatangkan sebuah tangisan.
"Den, bibi tinggal dulu ya, sepertinya anak bibi nangis.. Kalo aden perlu sesuatu, panggil bibi saja ya.."
"Iya Bi.. Makasih.. Sekali lagi maaf udah ngerepotin.."
"Ngga kok den, jangan sungkan.. Bibi tinggal sebentar  ya Den.."
Darma pun mengangguk sambil tersenyum.
Setelah ditinggal Bi Sumi, Darma pun menghabiskan sedikit waktunya untuk melihat buku yg tergeletak di hadapannya. Buku itu berisi daftar anak yg pernah tinggal di Panti Asuhan ini. Ia memperhatikan foto demi foto yg terpampang di buku tersebut. Dari beberapa lembar foto yg sudah ia lewati, ia menemukan sebuah foto yg di bawahnya tertulis sebuah nama "Raka Fariz Ibrahim". Ia jelas tau wajah yg terpampang pada foto itu. Namun, pandanganya terusik oleh satu foto yg diletakan di samping foto Raka, foto itu terlihat sangat  familiar, dan senyumnya.. Senyumnya jelas mirip dengan senyuman Raka, apa itu adiknya Raka?
Tapi, tunggu.. Nama yg tertera di bawah foto itu..? 'Raisa Fariz Ibrahim'.
Nama itu? Nama belakang Raisa yang sempat dibuang ibu angkatnya agar Raisa tak pernah lagi terikat oleh masa lalunya. Dan tunggu, foto yg dilihatnya seperti tak sing.
Darma bergegas mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan dia segera mencari selembar foto yang sering diletakanya di dalam dompet. Ia cabut selembar foto masa kecil Raisa satu-satunya yang dimilikinya.
Darma membungkam mulutnya, tangannya bergetar, ia tak dapat menahan kekagetannya, mungkinkah mereka..?
"Bi..!! Bi Sumii.. saya harus pergi sekarang.."
Darma pun bergegas menuju mobil dan melanjutkan kembali aksi pencariannya, ia berkali-kali mencoba menghubungi Raka, namun nihil.. Tak ada jawaban sama sekali.
“Bodoh..!! Benar-benar bodoh..”.
Lagi-lagi Darma menggerutu dan tak percaya akan kenyataan yang baru saja diketahuinya.
Sementara itu di lain tempat, Raisa dan Raka menghabiskan sisa malamnya di Hotel, mereka menikmati kebersamaan berdua, hubungan mereka kini sudah melebihi batas, Raisa bersedia menyisakan sisa malam ini seutuhnya untuk Raka.
"Apa kau yakin Rai?"
Tanya Raka meyakinkan
"Ya, aku mencintaimu raka.."
Rai mengangguk pasrah. Lalu mereka menghabiskan sisa malam itu berdua.
Namun siapa sangka, satu tetes air mata mengalir di pelopak mata Raisa.
'Maafkan aku.. kak Darma..'
Di waktu yang sama, Darma masih cemas mencari keberadaan Rai, ditambah kebenaran yang baru saja terungkap membuat dirinya begitu terpuruk, ia tak ingin hal yang ditakutinya terjadi. Darma mencoba mengontrol fikiranya, dan ia pun semakin mempercepat laju mobilnya. Namun tanpa sadar, ia tak memperhatikan sebuah truk juga melaju kencang menuju arah yg berlawanan, sehingga pada titik tertentu mobil mereka saling bertabrakan.
***

#4 I Didn’t Wrong
Raisa kembali membuka lembar demi lembar kertas lusuh di hadapannya itu, hingga tangannya berhenti pada lembaran terakhir.
‘Aku menyukaimu Rai..”
31 Oktober 2010
Lagi-lagi tangisannya pecah, ia tak sanggup mempercayai semua yang kini tengah di alaminya, kehidupan begitu pedih untuknya.
Mengapa? Mengapa kebenaran begitu lambat..? mengapa kehidupan begitu menyiksanya dengan sebuah rasa kasih sayang yang tak sanggup dipahaminya sebelumnya.. mengapa hidup begitu tak adil baginya?
Kini Rai hanya bisa membiarkan masa lalu menjadi kenangan terpahitnya.
Raka yang kini tinggal bersama Rai, hanya bisa memandang iba gadis yang sebenarnya adik kandungnya itu. Perlahan ia menghampiri Rai, dan menepuk halus pundak Rai
            “Saatnya kita pergi kepemakamannya, Rai.”
Rai menghapus air matanya dan mencoba mengontrol perasaanya.
Ia pun bangkit dan membiarkan buku yang ada di hadapannya terbuka begitu saja.
Semilir angin perlahan memasuki ruangan di tempat yang yg baru saja diduduki Raisa. Tanpa sengaja, buku itu tiba-tiba tertutup dan terukir sebuah nama “Rai1&Raka2”, nama yang tertulis itu memutar akan sebuah memori, di mana kebenaran tidak perlu di cari.
25 September 1999
“Kakak.. ini untuk kakak..”
Rai kecil yang masih berusia 3 tahun memberikan sebuah buku pada Darma.
“Terimakasih..”
Ucap Darma sambil menerima buku itu.
“Itu kak Raka yg membelikannya untuku, karna sekarang kakak menjadi kakaku, aku memeberikannya untuk kakak..”
Ucap Raisa kecil sambil tersenyum riang.
Layaknya seorang anak kecil, mereka pun kembali bermain sembari berlaria. Rai yg sudah melebihi batas tempat ia belari tak sengaja tergelincir menginjak sebuah batu, dan itu penyebab besar kepalanya terbentur hingga menyebabkan ia, amnesia.
*end*
Note:
1. Rai : Adik (b.sunda)

2. Raka : Kakak (b.sunda)

Komentar

Postingan Populer